Siapapun tidak ingin hidup atau memasuki masa
Masa
Kapan bangsa
Si kuatir memulai perjalanannya dengan susah payah, ia harus melepaskan diri dari keluarganya dan masuk kepadang gurun.
Sama kayak bangsa Israel pas keluar dari mesir dengan gegap gempita, dengan penuh keajaiban dan mujizat seperti serbuan serangga, wabah penyakit, gelap gulita, laut terbelah, suara yang mengguntur dari atas bukit, tiang awan dan tiang api. Tapi bangsa yang sama yang mengalami semuanya itu dengan segera manjadi pahit dan kering ketika mereka harus melewati
Seperti pesta yang sudah usai, segala kegembiraan udah lewat dan saat kita terbangun mendapati rumah yang sudah sepi, yang tertinggal hanyalah sampah-sampah sisa pesta tanpa ada seorangpun yang membantu kita untuk membereskan. Seperti suami-istri yang baru pulang berbulan madu dan kembali harus menghadapi kanyataan, tagihan dan pekerjaan. Hilang sudah masa kegembiraan dan yang tersisa hanya rasa berat, hampa dan sepi.
Kalau kita melihat kehidupan yusuf di alkitab, kita seperti melihat mobil yang berjalan melewati jalan yang penuh dengan polisi tidur dan lubang. Terantuk-antuk dan naik turun terus-terusan. Saya selalu bertanya-tanya apakah di penjara yusuf akan kecewa, apakah dia menanyakan dimanakah Tuhan? Dimanakah teman-temanya? Terbangun di tempat asing dengan penjahat dari seluruh mesir berkumpul, tanpa perlindungan hak asasi dan tanpa perlakuan manusiawi, teman teman yang menyertainya di rumah potifar sekarang balik mencibir, keluarganya berada di tempat yang jauh dan Tuhan yang dipuja dan disembahnya entah dimana. Tuhan yang diikuti yusuf membiarkannya terbangun di penjara, sendirian di bawah tatapan jahat teman2 sepenjaranya. Apakah yusuf kesepian?
Di Samuel 21 dan 22, Daud baru saja jadi pahlawan di negerinya, kepopulerannya bahkan melebihi kepopuleran presiden negerinya. Tapi hari ini, dia duduk merenung di pojokan gua di tempat terpencil di
Patah hati, kehilangan pekerjaan, kecelakaan dan sakit penyakit. Sorak sorai di pagi hari dan isak tangis di malam hari. Saat teduh yang indah di pagi hari dan teriakan mencari Tuhan di malam harinya. Cepat atau lambat, setiap dari kita akan masuk ke padang gurun, tanpa peringatan, tiba-tiba saja Tuhan terasa jauh entah di mana dan teman-teman hilang. Atau kalaupun teman-teman masih ada, mereka lebih baik tidak ada karena mengesalkan (ingat ceita ayub?),
Setiap orang punya
Daud memilih untuk tetap mempercayai Tuhan tak terlihat dan sepertinya jauh. Dan seperti yang kita bisa baca di alkitab, kaum keluarga daud datang membantunya dan 600 orang datang kepadanya menjadi teman-teman seperjuangannya, teman-teman barunya seumur hidup. Yusuf memilih untuk tetap mempercayai Tuhan sekalipun sulit untuk melihat Tuhan di tengah penjara yang gelap, lembab dan bau. Yusuf menjadi perdana menteri dan berkumpul lagi dengan keluarganya.
Kalau kamu merasakan Tuhan terasa jauh, kamu bukan orang pertama yang mengalami hal itu. Cepat atau lambat kita orang Kristen harus menghadapi masa di mana kita harus belajar untuk tetap mempercayai Tuhan sekalipun Dia tampaknya diam dan jauh. Saat seperti ini hanya ada 2 pilihan. Tetap menyeberangi gurun atau kembali ke ‘mesir’ (dosa lama).
Sebenarnya Tuhan gak pernah jauh walaupun Dia terkadang sepertinya jauh. Kenyataan bahwa kamu merasa Tuhan jauh dan merasakan kerinduan untuk dekat kepada Tuhan lagi seperti dulu menunjukkan kalo Roh Kudus masih di dalam kamu. Kalau Roh Kudus udah ga ada di dalam kamu dan Tuhan bener2 jauh, kamu gak akan pernah merasa Tuhan jauh dan gak bakalan merasa ada sesuatu yang salah. Tapi karena Roh Kudus ada di dalam kita, Dia yang menaruh kerinduan di dalam kita untuk mencari Tuhan. Perasaan kamu yang merasa ada sesuatu yang salah dan Tuhan sepertinya menjauh justru menunjukkan Roh Kudus gak pernah jauh. Masalahnya, apakah kita akan tetap mempercayai Tuhan sekalipun dia ‘terasa’ jauh atau nggak. (Min2, Air Hidup, Yeremia)





